Halaman

Minggu, 26 Februari 2012

Laki-laki adalah aksesoris

"cha, buat apa sih elo nangis-nangis soal cowok kalo toh dia emang bukan buat elo? buang-buang energi bukan? kalo toh memang dia bukan buat elo, that's it. selesai. masih banyak kok masalah lain yang lebih berguna untuk dipikirin. gue ga mau ajah masalah hidup gue cuman seputar cowok, percintaan dan perasaan. gak intelek bangt!"

"cha, yang namanya relationship itu bukan proyek satu kepala. tapi proyek dua kepala dengan dua hati ditambah bumbu-bumbu disana sini. lo gak mungkin dong untuk menjalankan sebuah hubungan tapi cuma elo yang berperan? itu sih sama ajah masturbasi. dia juga harus punya andil. bukan cuma elo ajh yang terlibat. karena dia juga ada pada hubungan yang lo bangun bareng-bareng"

"cha, jadi perempuan itu harus kuat. tanpa laki-laki pun, elo harus buktiin kalo lo bisa survive. laki-laki itu cuma aksesoris. dipake sukur, ga dipake juga gak apa-apa. toh, tanpa aksesoris itu kita bisa survive koq. kita masih tetap cantik dan masih akan tetap bisa mengeluarka sparkling-sparkling yang ada di diri kita."

-Nina, The Missing Puzzle-


The some missing puzzle








Tidak ada komentar:

Posting Komentar