Halaman

Jumat, 13 Juli 2012

Akhirnya Aku Tau

Pergantian hari, sekitar pukul 12.00 dini hari, aku coba beranikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat untuk seseorang disana. Seseorang yang pernah menjadi sesuatu yang berarti untukku, seseorang yang pernah aku sayang, seseorang yang pernah hadir dalam setiap hari-hariku, seseorang yang mengajariku bagaimana cara mencintai yang baik, dan mungkin sampai sekarang akupun masih menyayanginya.
"Apakah tanpa status, lantas kita tak saling kenal dan tak saling sapa? dulu kamu ga pernah ngajarin aku untuk saling membenci loh."
Tak lama setelah aku mengirimkan pesan singkat tersebut, kemudian ada balasan dari dirinya. 
"kamu kenapa? kangen aku? apa kamu benci sama sikapku? maaf yaa ternyata aku ga sebaik yang kamu pikir. belajarlah membenciku, karena itu akan membuatmu lebih bahagia"

sungguh, jantungku berdegup dengan kencang saat membaca pesan itu. ternyata dia masih mau membalas pesan singkat yang aku kirimkan. lalu aku membalas pesannya. butuh waktu lama untuk membalasnya, karena aku harus berfikir apa yang harus aku tulis. 
"ah masa? sotoy nih. enggak sih, aku cuma heran ajah kenapa kita saling terdian dan (mungkin) menyindir? padahal dulu kita tak pernah seperti itu. aku ga berharap kita bisa kaya dulu lagi, sebab aku tau kamu mengharapkan yang lain. at least, aku ingin tetap menjalin silahturahmi denganmu. hehehee. klasik ya? :)"
entah apa yang ada dibenakku, sehingga aku terfikir untuk menulis hal seperti itu. hehehee. aku hanya ingin kami seperti dulu, sebelum kami menjalin hubungan. berteman. 
Tak lama kemudian, dia membalas pesanku..
"kenapa kamu heran? kamu kan udah ga peduli. yaudah sama. aku mengharapkan yang lain? enggak pernah, aku cuma menyesali masa laluku dan menceritakannya kembali."
Ya Allah, kenapa dia begitu tega mengirimkan pesan seperti ini. apa salahku terlalu fatal di matanya? padahal bukan aku yang bersalah. dialah yang memicu awal pertengkaran kami. lalu, aku balas pesan singkatnya itu.
"siapa yang bilang aku udah ga peduli? just because i keep in silent, it doesn't mean i don't care with you. bahkan masih ada namamu di setiap doaku. yang ga pedulu itu ya kamu. ga pernah mau tau. malah mencintai masa lalumu. hehee. ga guna juga sih dibahas. intinya aku cuma ga mau punya musuh."
Setelah mengirimkan pesan itu, aku putuskan untuk memejam. aku tak ingin melihat apa yg dia balas. pasti balasannya akan membuat aku tak bisa terlelap dengan nyenyak. akhirnya aku terlelap.
Dan pagi ini ketika aku melihat kotak masukku, ada pesan singkat yang ia kirimkan untukku..
"Masih aku yang ga peduli duluan? oke, coba ingat terakhir smsmu bulan Juni kemarin. Aku memusuhi kamu? enggak. aku cuma benci sikapmu. kamu terlalu angkuh. Kenapa aku lebih suka masa laluku? karena kita dulu pernah saling melebur keegoisan, selalu ada maaf bila ada khilaf, selalu belajar dari kesalahan dan itulah yang aku rindukan. dan dulu kita sama-sama anti kata putus karena kita selalu berusaha untuk saling mempertahankan dan mengaggap setiap masalah sebagai cobaan. dan itulah keseriusan. maaf ya bukan banding-bandingin, tapi aku belum menemukan keseriusan dari "kita" dulu. aku tak sempurna dan kamupun tak lebih dari sempurna. tak ada yang benar."
tak tertahankan, air mataku mengalir dengan derasnya setelah membaca pesan singkat yang dikirimkannya itu. Ternyata selama ini, itu yang ada difikirannya. ternyata selama ini dia yang selalu mengaggapku salah. padahal, kalau diurai kembali ceritanya, pasti kita akan tau siapa yang salah dan siapa yang benar..

Hei pria..
Aku memang tak sempurna..
Aku memang terlalu angkuh..
Aku memang selalu egois..
Aku memang tak pernah memaafkan khilafmu..
Aku memang tak pernah belajar dari kesalahan..
dan aku memang tak pernah berusaha mempertahankan..

Tapi, satu hal yang belum kamu mengerti..
Ini adalah mengenai Prinsip Hidup..
Aku tak suka jika ada seseorang yang mengkhianati prinsip hidupku..
Dan kamu telah mengkianatinya..

Salahkah aku jika terlalu angkuh dan tak bisa memaafkanmu?
Salahkah aku jika terlalu egois dan tak berusaha mempertahankan dirimu?
Kamu yang tak pernah bisa menjagaku, lahir dan batin.

Kamu selalu menganggap dirimu paling sempurna..
yang selalu bisa mengerti aku..
yang selalu bisa menuruti semua keinginanku..
yang selalu bisa meredam amarah dan keangkuhan saat masalah datang..

bukan itu yang aku inginkan wahai pria..
Aku hanya ingin kamu menghargai siapa aku dan bagaimana kehidupanku?
Bukan untuk kau bandingkan dengan masa lalumu, yang bisa memberikan kau segalanya..

Masa lalumu itu bukan aku. dan akupun tak pernah bisa menjadi masa lalumu.
Kami berbeda..
Kami mempunyai perbedaan prinsip..
Kami punya perbedaan lingkungan sosial..
kami punya cara hidup yang berbeda..
dan itu tak akan pernah bisa disamakan satu dengan yang lain..

Tak kusangka, ternyata kau berfikir seperti itu..

Mungkin percuma kalau aku terus-terusan memikirkan tentang dirimu..
yang sama sekali tak pernah memikirkan tentangku.. 

Biarlah takdir Allah yang akan menentukan kita melangkah kemana..
Maaf untuk segala kesalahan yang disengaja ataupun tidak..

Semoga kamu bisa menemukan yang seperti masa lalu-mu itu yaa..
Aku bantu doa :')

Salam,
Fitta





Tidak ada komentar:

Posting Komentar