Minggu, 2 September 2012
Sudah ku bayangkan malam ini akan terjadi. Saat-saat dimana
aku berbincang dengan kedua orang tuanya, tanpa ada dia di forum tersebut. Dengan
beberapa strategi dan izin Allah, akhirnya aku bisa singgah di kediamannya
disaat dia tidak dirumah. Tau kenapa alasanku datang saat dia tidak ada? Karena
aku terlalu takut untuk menatap matanya lagi. Aku terlalu takut untuk jatuh
hati pada dirinya. Karena aku sudah bersusah payah untuk melupakan segala
tentang dia. Aku tidak ingin semuanya berantakan hanya karena menatap matanya.
Well, semuanya berawal dari keberanianku untuk mengunjungi
rumahnya. Soalnya selama ini aku belum pernah berkunjung kerumahnya atas nama
diriku sendiri. Mau tau rasanya seperti apa? Keringat dingin dan deg-deg-an
sekujur tubuh. Rasanya jantung ini mau copot dan ini melebihi nervous saat mau sidang
skripsi. It’s really. Soalnya aku belum pernah bertemu dan berbincang panjang
lebar dengan kedua orang tuanya, dan akupun belum mengerti bagaimana sifat
mereka. Sungguh, ini begitu menegangkan. It’s was terrible.
Kedatanganku disambut dengan ramah oleh keluarganya. Bapak,
Ibu, dan kedua Adik. Ku kecup tangan ibu dan ku cium kedua pipinya. Sungguh,
perasaanku tak karuan, nervous luar biasa. Namun ku coba untuk tenangkan diri
dengan membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar beliau. Ibu sangat baik
padaku, ramah dan penuh senyum. Tidak lama, Bapak datang bergabung untuk berbincang
bersama aku dan Ibu.
Di ruang tamu itu, kami banyak berbincang mengenai cita-cita
dan masa depanku. Bapak memberikan self motivation padaku agar kelak aku bisa
menentukan langkahku mau kemana setelah ini. Aku tak menyangka, ternyata Bapak
sangat baik. Beliau bercerita tentang masa hidupnya, tentang bagaimana dia
menjalani hidup, tentang bagaimana dia melamar ibu, dan aku suka
mendengarkannya. Bapak berkata padaku, “Kalau mau melangkah, jangan setengah-setengah.
Harus yakin dan optimis, ga boleh ragu!!”. Aku hanya bisa tersenyum dan
menganggung mendengar semua wejangan yang Bapak berikan malam ini.
Berbeda dengan Bapak, ketika berbincang dengan Ibu, kami
selalu membicarakan dia. Bagaimana masa lalunya dengan sang mantan, bagaimana
hubunganku dengan dia, dan apa yang harus dilakukan dengan kami berdua. Sebetulnya
aku tidak ingin membahas dia, tapi ibu memulainya dengan banyak pertanyaan. Hehee.
Pasti aku terlihat salah tingkah ketika menjawab pertanyaan Ibu.
Aku bilang pada Ibu, kalau sekarang aku sudah tidak bisa
memberikan perhatian lagi ke dia. Aku sudah tidak bisa membangunkannya lagi di
setiap pagi untuk kuliah. Tapi, tau jawaban ibu apa? Ibu bilang, kalau kami
berdua masih saling memiliki perasaan, maka perjuangkanlah. Harus ada usaha
dari kami berdua untuk bisa bersama. Toh setiap masalah kan ada jalan
keluarnya.
Ibu bilang, aku harus sering memberikan perhatian lebih ke
dia meski jarak sudah memisahkan kami berdua. Karena hal itu bisa membuat
hatinya menjadi luluh kembali. Tapi permasalahannya adalah aku terlalu takut
untuk melakukan hal itu. Bahkan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya saja
aku tak berani. Lagipula, sepertinya dia sudah melupakanku. Coba lihat di
timeline twitternya, yaa begitulah. Dia sudah mulai memuja dan memuji wanita
lain.
Tapi dibalik itu semua, aku sungguh senang sekali bisa
berbincang dengan Bapak dan Ibu. Seandainya itu perbincangan untuk yang pertama
dan terakhir, tidak apa-apa. At least, Ibu dan Bapak sudah tau siapa aku.
Sekarang adalah saatnya merenung dan mulai menata hati
kembali.
Biar Allah yang akan menentukan, aku hanya berdoa memohon
yang terbaik.
Untukku dan untuk dirinya.
Salam,
Fitta Amellia Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar