Halaman

Senin, 03 September 2012

The First I Come


Minggu, 2 September 2012

Sudah ku bayangkan malam ini akan terjadi. Saat-saat dimana aku berbincang dengan kedua orang tuanya, tanpa ada dia di forum tersebut. Dengan beberapa strategi dan izin Allah, akhirnya aku bisa singgah di kediamannya disaat dia tidak dirumah. Tau kenapa alasanku datang saat dia tidak ada? Karena aku terlalu takut untuk menatap matanya lagi. Aku terlalu takut untuk jatuh hati pada dirinya. Karena aku sudah bersusah payah untuk melupakan segala tentang dia. Aku tidak ingin semuanya berantakan hanya karena menatap matanya.

Well, semuanya berawal dari keberanianku untuk mengunjungi rumahnya. Soalnya selama ini aku belum pernah berkunjung kerumahnya atas nama diriku sendiri. Mau tau rasanya seperti apa? Keringat dingin dan deg-deg-an sekujur tubuh. Rasanya jantung ini mau copot dan ini melebihi nervous saat mau sidang skripsi. It’s really. Soalnya aku belum pernah bertemu dan berbincang panjang lebar dengan kedua orang tuanya, dan akupun belum mengerti bagaimana sifat mereka. Sungguh, ini begitu menegangkan. It’s was terrible.

Kedatanganku disambut dengan ramah oleh keluarganya. Bapak, Ibu, dan kedua Adik. Ku kecup tangan ibu dan ku cium kedua pipinya. Sungguh, perasaanku tak karuan, nervous luar biasa. Namun ku coba untuk tenangkan diri dengan membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar beliau. Ibu sangat baik padaku, ramah dan penuh senyum. Tidak lama,  Bapak datang bergabung untuk berbincang bersama aku dan Ibu.

Di ruang tamu itu, kami banyak berbincang mengenai cita-cita dan masa depanku. Bapak memberikan self motivation padaku agar kelak aku bisa menentukan langkahku mau kemana setelah ini. Aku tak menyangka, ternyata Bapak sangat baik. Beliau bercerita tentang masa hidupnya, tentang bagaimana dia menjalani hidup, tentang bagaimana dia melamar ibu, dan aku suka mendengarkannya. Bapak berkata padaku, “Kalau mau melangkah, jangan setengah-setengah. Harus yakin dan optimis, ga boleh ragu!!”. Aku hanya bisa tersenyum dan menganggung mendengar semua wejangan yang Bapak berikan malam ini.

Berbeda dengan Bapak, ketika berbincang dengan Ibu, kami selalu membicarakan dia. Bagaimana masa lalunya dengan sang mantan, bagaimana hubunganku dengan dia, dan apa yang harus dilakukan dengan kami berdua. Sebetulnya aku tidak ingin membahas dia, tapi ibu memulainya dengan banyak pertanyaan. Hehee. Pasti aku terlihat salah tingkah ketika menjawab pertanyaan Ibu.

Aku bilang pada Ibu, kalau sekarang aku sudah tidak bisa memberikan perhatian lagi ke dia. Aku sudah tidak bisa membangunkannya lagi di setiap pagi untuk kuliah. Tapi, tau jawaban ibu apa? Ibu bilang, kalau kami berdua masih saling memiliki perasaan, maka perjuangkanlah. Harus ada usaha dari kami berdua untuk bisa bersama. Toh setiap masalah kan ada jalan keluarnya.

Ibu bilang, aku harus sering memberikan perhatian lebih ke dia meski jarak sudah memisahkan kami berdua. Karena hal itu bisa membuat hatinya menjadi luluh kembali. Tapi permasalahannya adalah aku terlalu takut untuk melakukan hal itu. Bahkan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya saja aku tak berani. Lagipula, sepertinya dia sudah melupakanku. Coba lihat di timeline twitternya, yaa begitulah. Dia sudah mulai memuja dan memuji wanita lain.

Tapi dibalik itu semua, aku sungguh senang sekali bisa berbincang dengan Bapak dan Ibu. Seandainya itu perbincangan untuk yang pertama dan terakhir, tidak apa-apa. At least, Ibu dan Bapak sudah tau siapa aku.
Sekarang adalah saatnya merenung dan mulai menata hati kembali.
Biar Allah yang akan menentukan, aku hanya berdoa memohon yang terbaik.
Untukku dan untuk dirinya.

Salam,
Fitta Amellia Lestari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar