Halaman

Selasa, 27 November 2012

Surat untuk Lidya


Untuk Lidya,

Lidya, saya tak bisa berkata-kata manis padamu dan kamu tahu itu. Bahkan, dalam tulisan pun saya masih saja canggung mengatakan hal-hal romantic yang kamu ingin dengar. Tapi untuk kali ini, saya akan mencoba menulis surat cinta untukmu. Sesuatu hal yang sangat kamu inginkan sejak kita baru memulai hubungan tujuh tahun yang lalu. Saat itu, kita masih berseragam putih-abu. Jika hasilnya jelek, jangan kamu anggap saya tak bersungguh-sungguh melakukan hal ini, saya hanya tidak tahu caranya.

Saya masih ingat bagaimana saat itu kamu sibuk, menyusun buku tugas murid kelas untuk dikumpulkan. Kamu adalah sekertaris kelas yang menjadi favorit semua orang. Wajahmu selalu terllihat ceria, tak pernah sekalipun saya lihat rasa sedih atau kecewa. Setiap harinya kamu selalu bersemangat dan penuh senyum. Begitu banyak laki-laki yang berharap bisa menjadi kekasihmu, tapi kamu memilih saya. Ketika itu saya mengagumi kepintaeanmu. Kamu tersenyum sambil menyatakan bahwa kamu juga mengaggumi saya dan berkata “mengapa kita tidak bersama saja jika kita saling mengagumi”

Tujuh tahun kita mengalami pasang surut dengan segala ombak dan transformasi di dalamnya. Saya bukan orang yang romantic seperti yang kamu harapkan, tapi kamu tak pernah putus asa untuk membantu untuk lebih mengerti keinginanmu. Saya bukan orang yang berani berbicara di depan banyak orang. Kamu lah yang membantu saya mengatasi hal itu. Bagi saya, kamu adalah wanita sempurna yang Tuhan kirim untuk hidup saya.
Sering saya bercermin dan menatap tubuh kurus, kulit hitam, badan yang tidak terlalu tinggi, dan wajah yang biasa saja. Aku sering berfikir sebenarnya apa yang kamu bisa banggakan dari diri saya?

Kamu bisa mendapatkan pria mana pun yang kamu inginkan. Pria yang sesuai dengan kamu yang begitu mengagumkan. Namun memang begitulah kamu, istimewa. Lidya yang saya kenal tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui bagaimana sebenarnya perasannya. Bahkan saya yang selalu ada di sampingmu pun masih harus menebak pikiranmu.

Kamu bermetamorfosa begitu cepat, kepintaranmu membuat kamu terbang dengan sangat cepat dibandingkan saya yang tak menonjol dan berjalan tak terlalu cepat. Namun, kamu tetap seperti dulu tak pernah satu pun kata-kata angkuh keluar dari bibirmu. Kamu menyemangati saya untuk berjalan lebih cepat lagi dan bahkan membimbing saya untuk mencoba terbang seperti kamu. Sekarang lihatlah kita berdua, sama-sama terbang mencoba menggapai langit-langit yang lebih tinggi lagi daripada sekarang. Semua berkat kamu, Lidya.

Kita memang pernah bertengkar mempertentangkan keinginan-keinginan saya yang sering tidak masuk akal, tapi dengan bijak kamu bisa menyikapinya dan selalu berhasil membuat saya tertunduk malu. Jika banyak laki-laki di dunia ini mengeluhkan pasangan mereka yang terlalu menuntut, aku beruntung karena kamu selalu membiarkan saya menjadi diri saya sendiri seburuk apapun itu. Menurutku, itulah yang paling penting dalam sebuah hubungan, menjadi diri sendiri dan mengubahnya bersama-sama jika itu adalah sesuatu yang buruk.

Kadang saya masih saja meminta kamu untuk tak banyak bergaul dengan laki-laki lain yang tak bosan-bosannya mengelilingi kamu. Seharusnya saya tidak begitu, karena kamu adalah wanita penuh komitmen termasuk pada hubungan kita berdua. Maaf, Lidya, saya terlalu menyayangi kamu hingga serignkali api cemburu membakar otak dan logika saya.

Kamu suka sekali memakan cokelat. Saya perhatikan itu sejak pertama kali saya melihat kamu saat orientasi siswa. Sebelum kakak-kakak OSIS memanggil namamu untuk maju sebagai petugas upacara, saya melihat kamu dengan cepat memasukkan benda berwarna cokelat ke dalam mulut dan kamu mengunyahnya sampai habis dengan panik. Setelah itu, kamu kembali tersenyum, dengan rasa percaya diri dan tampil di depan kelas berlatih menjadi pemimpin upacara.

Semenjak saat itu saya tahu bahwa kamu adalah penggemar berat cokelat. Saya selalu membawakanmu cokelat, bahkan hingga cokelat-cokelat unik dari segala penjuru dunia. Matamu berbinar setiap kali saya membawanya. Tatapan mata itu tak mungkin saya lupakan, tatapan mata yang begitu istimewa.

Berhubungan denganmu membuat semua hal kecil menjadi sangat istimewa. Hobimu memakan cokelat telah menyadarkan saya akan suatu hal yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Kamu ingat? Akhir minggu, 3 bulan yang lalu, saya membawakanmu oleh-oleh cokelat setelah berpergian dari singapura. Saat saya memberikan kotak cokelat, kamu menerima dengan tatapan senyum beribu makna yang tidak mampu saya artikan. Kamu menatap saya dalam dan berkata, “aku sudah tidak mebutuhkan cokelat-cokelat lagi dalam hidupku. Aku berharap kamu bisa menggantikan mereka hingga akhir hayatku nanti”. Saya hanya tersipu karena tidak mengerti aoa maksud ucapanmu. Begitulah saya, yang mencoba terlihat pintar padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai hidup dan cara mengerti orang lain jika dibandingkan kamu.

Kamu menggenggam tangan saya erat ketika kita sama-sama memasuki rumahmy, saat untuk pertama kalinya kamu mengenalkan saya pada kedua orang tuamu. Rasa canggung saya luntur seketika ketika ternyata semua orang yang ada di rumahmu sudah mengenal saya meski belum sempat sekalipun bertemu. Kamu tak pernah menutupi apapun berkaitan denganku kepada mereka. Saya semakin yakin bahwa memang kamu wanita yang Tuhan anugerahkan untuk saya.

Lidya, saya mencari tahu apa makna di balik cokelat-cokelat itu. Saya mengerti pada akhirnya, cokelat yang selama ini kamu makan adalah teman terbaikmu dalam menghadapai segala permasalahan. Cokelat-cokelat lezat itu dapat membuatmu tenang dan berkepala dingin. Jangan khawatir Lidya, kamu tidak memerlukan cokelat-cokelat itu lagi. Mulai detik ini, kamu bisa mengandalakan diri saya, menggenggam tangan, dan menceritakan keluh keluh kesahmu. Saya akan berusaha lebih keras dari cokelat-cokelat itu.

Masa depan sudah tergambar dengan jelas di depan kita. Tidak ada lagi yang saya inginkan kecuali kebahagiaan berdua denganmu. Tanpa ragu saya beranikan diri untuk memintamu menajdi wanita yang akan menemani saya menjalani hari tua nanti. Kamu mengangguk yakin saat saya mengungkapkan hal itu.

Malam ini saya tersenyum bahagia. Permintaanmu untuk menulis surat ini adalah hal yang tak biasa buat saya, tapi tidak ada hal yang mustahil jika itu adala permintaan kamu. Sudah sewajarnya saya sanggupi hal yang kamu inginkan. Bukan karena kamu yang telah berbuat banyak dalam hidup saya selama 7 tahun ini, tapi karena rasa saying dan cinta saya yang begitu besar kepadamu, Lidya. Besok adalah hari besar kita, tak bisa saya bayangkan betapa menyenangkannya hidup saya bisa berdampingan bersama wanita yang begitu saya cintai. Saya akan menjadi seorang suami yang baik untukmu, anak yang baik bagi kedua orang tuamun, ayah yang baik untuk calon anak-anak kita. Tidak sabar rasanya mengucap ikrar sehidup semati di depan pendeta esok hari. Tuhan memberkati kita… dan cinta kita.

Kekasihmu,
Edwin


Itu adalah sepenggal surat yang ditulis oleh Edwin untuk calon istrinya, Lidya. Mereka berdua akan melaksanakan pernikahan. Tapi takdir berkata lain, ternyata Edwin dan rombongan keluarganya mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju gereja. Semua impian dan harapan Lidya akan masa depan bersama Edwin sirna seketika. Lidya rapuh. Namun Lidya tetap kuat, karena dia adalah wanita yang sangat hebat, seperti yang dikatakan oleh Edwin.

Entah kenapa saya begitu terenyuh membaca bagian cerita ini. Saya merasakan cinta mereka yang begitu kuat, hingga akhir ajal-pun, mereka tetap saling mencinta. Perjuangan mereka akan sebuah asa bernama cinta, tak pernah kunjung lekang. Mereka selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk pasangannya masing-masing.
Semoga Edwin tenang disisi Tuhan, dan Lidya, kamu wanita kuat. Lanjutkan keceriaan hari-harimu.

Penggalan surat ini diambil dari salah satu cerita yang ada di buku Danur karangan Risa Saraswati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar