Untuk Lidya,
Lidya, saya tak bisa berkata-kata manis padamu dan kamu tahu
itu. Bahkan, dalam tulisan pun saya masih saja canggung mengatakan hal-hal
romantic yang kamu ingin dengar. Tapi untuk kali ini, saya akan mencoba menulis
surat cinta untukmu. Sesuatu hal yang sangat kamu inginkan sejak kita baru
memulai hubungan tujuh tahun yang lalu. Saat itu, kita masih berseragam
putih-abu. Jika hasilnya jelek, jangan kamu anggap saya tak bersungguh-sungguh
melakukan hal ini, saya hanya tidak tahu caranya.
Saya masih ingat bagaimana saat itu kamu sibuk, menyusun
buku tugas murid kelas untuk dikumpulkan. Kamu adalah sekertaris kelas yang
menjadi favorit semua orang. Wajahmu selalu terllihat ceria, tak pernah
sekalipun saya lihat rasa sedih atau kecewa. Setiap harinya kamu selalu
bersemangat dan penuh senyum. Begitu banyak laki-laki yang berharap bisa
menjadi kekasihmu, tapi kamu memilih saya. Ketika itu saya mengagumi
kepintaeanmu. Kamu tersenyum sambil menyatakan bahwa kamu juga mengaggumi saya
dan berkata “mengapa kita tidak bersama saja jika kita saling mengagumi”
Tujuh tahun kita mengalami pasang surut dengan segala ombak
dan transformasi di dalamnya. Saya bukan orang yang romantic seperti yang kamu
harapkan, tapi kamu tak pernah putus asa untuk membantu untuk lebih mengerti
keinginanmu. Saya bukan orang yang berani berbicara di depan banyak orang. Kamu
lah yang membantu saya mengatasi hal itu. Bagi saya, kamu adalah wanita
sempurna yang Tuhan kirim untuk hidup saya.
Sering saya bercermin dan menatap tubuh kurus, kulit hitam,
badan yang tidak terlalu tinggi, dan wajah yang biasa saja. Aku sering berfikir
sebenarnya apa yang kamu bisa banggakan dari diri saya?
Kamu bisa mendapatkan pria mana pun yang kamu inginkan. Pria
yang sesuai dengan kamu yang begitu mengagumkan. Namun memang begitulah kamu,
istimewa. Lidya yang saya kenal tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui
bagaimana sebenarnya perasannya. Bahkan saya yang selalu ada di sampingmu pun
masih harus menebak pikiranmu.
Kamu bermetamorfosa begitu cepat, kepintaranmu membuat kamu
terbang dengan sangat cepat dibandingkan saya yang tak menonjol dan berjalan
tak terlalu cepat. Namun, kamu tetap seperti dulu tak pernah satu pun kata-kata
angkuh keluar dari bibirmu. Kamu menyemangati saya untuk berjalan lebih cepat
lagi dan bahkan membimbing saya untuk mencoba terbang seperti kamu. Sekarang
lihatlah kita berdua, sama-sama terbang mencoba menggapai langit-langit yang
lebih tinggi lagi daripada sekarang. Semua berkat kamu, Lidya.
Kita memang pernah bertengkar mempertentangkan
keinginan-keinginan saya yang sering tidak masuk akal, tapi dengan bijak kamu
bisa menyikapinya dan selalu berhasil membuat saya tertunduk malu. Jika banyak
laki-laki di dunia ini mengeluhkan pasangan mereka yang terlalu menuntut, aku
beruntung karena kamu selalu membiarkan saya menjadi diri saya sendiri seburuk
apapun itu. Menurutku, itulah yang paling penting dalam sebuah hubungan, menjadi
diri sendiri dan mengubahnya bersama-sama jika itu adalah sesuatu yang buruk.
Kadang saya masih saja meminta kamu untuk tak banyak bergaul
dengan laki-laki lain yang tak bosan-bosannya mengelilingi kamu. Seharusnya
saya tidak begitu, karena kamu adalah wanita penuh komitmen termasuk pada
hubungan kita berdua. Maaf, Lidya, saya terlalu menyayangi kamu hingga
serignkali api cemburu membakar otak dan logika saya.
Kamu suka sekali memakan cokelat. Saya perhatikan itu sejak
pertama kali saya melihat kamu saat orientasi siswa. Sebelum kakak-kakak OSIS
memanggil namamu untuk maju sebagai petugas upacara, saya melihat kamu dengan
cepat memasukkan benda berwarna cokelat ke dalam mulut dan kamu mengunyahnya
sampai habis dengan panik. Setelah itu, kamu kembali tersenyum, dengan rasa
percaya diri dan tampil di depan kelas berlatih menjadi pemimpin upacara.
Semenjak saat itu saya tahu bahwa kamu adalah penggemar
berat cokelat. Saya selalu membawakanmu cokelat, bahkan hingga cokelat-cokelat
unik dari segala penjuru dunia. Matamu berbinar setiap kali saya membawanya.
Tatapan mata itu tak mungkin saya lupakan, tatapan mata yang begitu istimewa.
Berhubungan denganmu membuat semua hal kecil menjadi sangat
istimewa. Hobimu memakan cokelat telah menyadarkan saya akan suatu hal yang
sebelumnya belum pernah terpikirkan. Kamu ingat? Akhir minggu, 3 bulan yang
lalu, saya membawakanmu oleh-oleh cokelat setelah berpergian dari singapura.
Saat saya memberikan kotak cokelat, kamu menerima dengan tatapan senyum beribu
makna yang tidak mampu saya artikan. Kamu menatap saya dalam dan berkata, “aku
sudah tidak mebutuhkan cokelat-cokelat lagi dalam hidupku. Aku berharap kamu
bisa menggantikan mereka hingga akhir hayatku nanti”. Saya hanya tersipu karena
tidak mengerti aoa maksud ucapanmu. Begitulah saya, yang mencoba terlihat
pintar padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai hidup dan cara mengerti
orang lain jika dibandingkan kamu.
Kamu menggenggam tangan saya erat ketika kita sama-sama
memasuki rumahmy, saat untuk pertama kalinya kamu mengenalkan saya pada kedua
orang tuamu. Rasa canggung saya luntur seketika ketika ternyata semua orang
yang ada di rumahmu sudah mengenal saya meski belum sempat sekalipun bertemu.
Kamu tak pernah menutupi apapun berkaitan denganku kepada mereka. Saya semakin
yakin bahwa memang kamu wanita yang Tuhan anugerahkan untuk saya.
Lidya, saya mencari tahu apa makna di balik cokelat-cokelat
itu. Saya mengerti pada akhirnya, cokelat yang selama ini kamu makan adalah
teman terbaikmu dalam menghadapai segala permasalahan. Cokelat-cokelat lezat
itu dapat membuatmu tenang dan berkepala dingin. Jangan khawatir Lidya, kamu
tidak memerlukan cokelat-cokelat itu lagi. Mulai detik ini, kamu bisa
mengandalakan diri saya, menggenggam tangan, dan menceritakan keluh keluh kesahmu.
Saya akan berusaha lebih keras dari cokelat-cokelat itu.
Masa depan sudah tergambar dengan jelas di depan kita. Tidak
ada lagi yang saya inginkan kecuali kebahagiaan berdua denganmu. Tanpa ragu
saya beranikan diri untuk memintamu menajdi wanita yang akan menemani saya
menjalani hari tua nanti. Kamu mengangguk yakin saat saya mengungkapkan hal
itu.
Malam ini saya tersenyum bahagia. Permintaanmu untuk menulis
surat ini adalah hal yang tak biasa buat saya, tapi tidak ada hal yang mustahil
jika itu adala permintaan kamu. Sudah sewajarnya saya sanggupi hal yang kamu
inginkan. Bukan karena kamu yang telah berbuat banyak dalam hidup saya selama 7
tahun ini, tapi karena rasa saying dan cinta saya yang begitu besar kepadamu,
Lidya. Besok adalah hari besar kita, tak bisa saya bayangkan betapa
menyenangkannya hidup saya bisa berdampingan bersama wanita yang begitu saya
cintai. Saya akan menjadi seorang suami yang baik untukmu, anak yang baik bagi
kedua orang tuamun, ayah yang baik untuk calon anak-anak kita. Tidak sabar
rasanya mengucap ikrar sehidup semati di depan pendeta esok hari. Tuhan
memberkati kita… dan cinta kita.
Kekasihmu,
Edwin
Itu adalah sepenggal surat yang ditulis oleh Edwin untuk
calon istrinya, Lidya. Mereka berdua akan melaksanakan pernikahan. Tapi takdir
berkata lain, ternyata Edwin dan rombongan keluarganya mengalami kecelakaan
ketika dalam perjalanan menuju gereja. Semua impian dan harapan Lidya akan masa
depan bersama Edwin sirna seketika. Lidya rapuh. Namun Lidya tetap kuat, karena
dia adalah wanita yang sangat hebat, seperti yang dikatakan oleh Edwin.
Entah kenapa saya begitu terenyuh membaca bagian cerita ini.
Saya merasakan cinta mereka yang begitu kuat, hingga akhir ajal-pun, mereka
tetap saling mencinta. Perjuangan mereka akan sebuah asa bernama cinta, tak
pernah kunjung lekang. Mereka selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk
pasangannya masing-masing.
Semoga Edwin tenang disisi Tuhan, dan Lidya, kamu
wanita kuat. Lanjutkan keceriaan hari-harimu.
Penggalan surat ini diambil dari salah satu cerita yang ada
di buku Danur karangan Risa Saraswati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar