Halaman

Rabu, 26 Juni 2013

Agama dan Tradisi

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 24 Juni 2013 adalah hari Nisfu Sya’ban. Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban. Menurut beberapa artikel yang saya baca, banyak sekali keutaman di bulan Sya’ban ini, salah satunya adalah Allah membukakan pintu maaf dan pada malam tersebut semua buku amalan ditutup. Tapi kalau buku amalan ditutup, berarti setelah itu amal kita tidak akan tercatat lagi? Tidak juga kan? Hhehe.

Anyways..

Pada tulisan kali ini, yang akan saya bahas adalah mengenai agama dan tradisi. Jadi biasanya pada malam Nisfu Sya’ban itu, ada beberapa kalangan yang melakukan ritual Yasinan (membaca surat Yasin) dan menaruh beberapa air untuk didoakan. Begitupun dengan saya, di lingkungan perumahan saya juga melakukan hal ini.

Nah, saya menceritakan hal ini kepada teman saya di kantor. Dan tahu apa jawabannya? “Memang yasinan tuh apa sih? Gunanya untuk apa? Terus ngaruh sama air yang ditaruh dan didoakan tersebut?”. Spontan saya langsung merespon dan mengatakan “jangan pernah kaitkan agama dan logika. Karena agama tidak bisa diukur dengan logika.”

Mari kita bahas satu per-satu..

Pertama, apa gunanya yasinan? Ya coba dipikir ulang deh, daripada hanya sekedar menonton televisi dan tidur-tidur-an, alangkah lebih baik kalau kita membaca salah satu surat yang ada di Al-Quran bukan? Masihkah ada pertanyaan kegunaan dari yasinan? Tell me right now…

Kedua, apa gunanya taro air yang didoakan? Saya pernah membaca salah satu artikel yang mengatakan bahwa zat-zat yang terkandung didalam air akan berubah ketika dibacakan doa. Dan saya percaya akan hal itu. Coba saja searching di internet kalau tidak percaya.

Ketiga, mengapa harus melakukan ritual tersebut? Bukankah sudah cukup dengan sholat di rumah saja? Okey, ritual yasinan  dan air tersebut merupakan sebuah tradisi. Agama dan tradisi tidak dapat dipisahkan. Waktu saya duduk di bangku kuliah, saya mempelajari satu teori dari Emile Durkheim. Durkheim mengatakan bahwa agama adalah 
Suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.
Jadi, semua orang bebas melakukan apa saja demi mencapai rohani yang sempurna. Kalau memang menurut sebagian orang kegiatan yasinan itu tidak penting dan tidak bermakna, ya silahkan saja. Karena cara orang beragama-pun berbeda-beda, mulai dari tradisional, formal, hinggal rasional.

Kita kan tinggal di Negara hukum yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), jadi kita juga bebas dalam beragama. Asalkan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku dan tidak melanggar nilai dan norma yang ada.

Oia, satu hal lagi yang ingin saya tekankan. Kalau memang kalian tidak pernah sepakat dengan tradisi yang dilakukan seseorang, janganlah kalian mempengaruhi orang-orang untuk tidak melakukan tradisi itu. Biarlah mereka menentukan mana yang baik bagi dirinya dalam mencapai keimanannya terhadap Allah SWT. 
Sebab, cara seseorang dekat dengan Tuhannya sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Pesan saya untuk tulisan ini adalah terapkan sikap TENGGANG RASA yang pernah kita pelajari semasa di bangku sekolah.


Cheers  ^_^



Fitta Amellia L.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar